Duri-duri yang Merosak Ukhuwah

0
375

Mencintai sesama mukmin dan mengikat tali ukhuwah (persaudaraan) merupakan suatu perbuatan yang amat mulia dan sangat penting. Allah SWT menyatakan persaudaraan sebagai sifat kaum mukminin dalam kehidupan di dunia dan di akhirat

“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara kerana itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat” (Al-Hujuraat: 10)

Persaudaraan yang terjalin di antara kaum mukmin sesungguhnya merupakan anugerah nikmat yang sangat besar dari Allah SWT.

“Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu kerana nikmat Allah orang-orang yang bersaudara” (Ali Imran : 103)

“Dialah yang memperkuatmu dengan pertolonganNya dan dengan para mukmin, dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka.” (Al-Anfaal: 62-63)

Adab interaksi perlu dijaga rapi, kerana jika tidak, tali ukhuwah yang telah terjalin boleh mengendur, bahkan putus kerana virus-virus yang berjangkit di hati, antara lain:

1. Tamak akan kenikmatan dunia

Perasaan kasih sayang sesama kerana Allah akan terbina. Hak masing-masing ditunaikan dengan sebaik dan semampu mungkin. Semua ini dijaga rapi, agar kekuatan ukhuwah itu tetap terjaga.

Tetapi, banyak yang telah terjadi di mana dua orang sahabat yang berukhuwah, akhirnya, berubah ketika terpedaya dengan gemerlap dunia dan berlumba-lumba untuk mendapatkannya.

Di sinilah sifat itsar (mendahulukan saudara) akan teruji. Sejarah telah membuktikan bagaimana ikatan imaniyah telah mampu menyatukan golongan manusia yang tidak pernah bertemu, tetapi sanggup berkorban apa yang ia miliki untuk kesenangan saudaranya. Kisah ikatan ukhuwah kaum Ansar terhadap kaum Muhajirin diabadikan dalam ayat berikut:

“Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman (Ansar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Al-Hasyr:9)

2. Tidak santun dalam bercakap

Hal ini merupakan pintu yang paling meluas dan biasa bagi masuknya syaitan, menebar bibit-bibit perselisihan dan permusuhan di antara sahabat. Banyak yang beranggapan, hubungan istimewa yang terjalin dengan sahabatnya membebaskannya dari tutur kata yang sopan.

Contoh gaya bercakap kepada saudara kita yang harus dihindari adalah:

a. Bercakap dengan nada suara tinggi dan menggunakan kata-kata kasar

Allah menyebutkan wasiat Luqman dalam mendidik anaknya :

“Dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keldai.” (Luqman : 19)

b. Tidak mendengar saranan saudaranya, enggan menatap ketika bercakap atau memberi salam, tidak menghargai keberadaannya.

Seorang ulama salaf berkata: “Ada orang yang memberitahuku tentang suatu hadits, padahal saya telah mengetahuinya sebelum ia dilahirkan, namun kesopanannya mendorongku untuk tetap mendengarnya hingga selesai.”

Kemuliaan akhlak Rasulullah saw membawa beliau untuk tetap mendengar dan tidak memotong kata-kata seorang musyrik bernama ‘Utbah.

Ketika berhenti, Rasulullah bertanya kepadanya : “Apakah engkau sudah selesai, hai Abul-Walid (panggilan ‘Utbah)?”

c. Berjenaka secara berlebihan

Islam membenarkan jenaka ringan dalam batas kesopanan, bahkan menggalakkannya kerana menambah kelenturan dan kehangatan hubungan ukhuwah. Sebaliknya, jenaka yang berlebihan dan melampaui batas kesopanan akan mempercepat kehancuran ukhuwah.

d. Sering mendebat dan membantah

Mereka yang sering mendebat dan membantah, akan menerima kesan negatif seperti menganggap unggul idea, sering mengkritik idea sahabat, menggunakan kata-kata pedas yang bernada merendahkan pemahaman, cara berfikir, dan kekuatan penguasaannya terhadap suatu masalah.

Sesungguhnya salah satu faktor paling berkesan yang dapat memicu rasa benci dan dengki antara sahabat adalah kebiasaan berselisih/berbantah-bantahan yang sering kali terjadi tanpa didasari oleh ketulusan dalam usaha mencari kebenaran.

Perselisihan juga terkadang menjebak keduanya dalam pembicaraan mengenai masalah yang masih samar, tanpa dalih argumen yang jelas. Perselisihan juga mendorong salah seorang di antara kedua sahabat tersebut terus berdebat walaupun tiada hasil yang dicapai, selain memperburuk hubungan dan mengubah sikap. Sabda Rasulullah saw maksudnya: “Sesungguhnya orang yang paling dibenci oleh Allah adalah orang yang sangat keras kepala dan suka membantah.” (HR. Bukhari, Muslim, An-Nasa’i, Tirmidzi, Ahmad)

“Tiada kaum yang menjadi sesat setelah mendapat petunjuk kecuali kerana mereka suka saling berbantah-bantahan”(HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah)

e. Kritikan keras yang melukai perasaan

Ikatan ukhuwah boleh menjadi renggang apabila salah seorang menyerang kawannya dengan kritikan bernada keras atau kritikan yang tidak berasas. Seperti ungkapan: “Semua yang kamu katakan adalah salah, tidak memiliki dalil yang menguatkan.”

Sebaliknya ditukarkan dengan kata-kata: “Beberapa sisi dalam pendapatmu itu perlu dipertimbangkan lagi”, “Menurut hemat saya…,” “Saya mempunyai idea lain, harap antum menyemaknya dan memberi penilaian,” dan ungkapan-ungkapan serupa lainnya.

3. Sikap Acuh/tidak acuh

Ukhuwah yang tidak dihiasi dengan kehangatan perasaan dan gejolak rindu, adalah ukhuwah yang kering. Ia akan segera gugur dan luntur.

Pada suatu malam Umar bin Khathab teringat kepada seorang sahabatnya, dan ia terus bergumam lirih : “Mengapa malam ini terasa begitu panjang.” Maka setelah menunaikan solat Subuh, Umar segera menemui sahabatnya itu dan memeluknya dengan erat. Subhanallah….

Itulah perasaan yang membuat seseorang merindukan saudaranya, sehingga berharap agar tidak berpisah darinya, baik di dunia maupun di akhirat.

Berempati atas semua musibah dan penderitaan yang dialami saudara atau sahabat serta memperhatikan keperluan-keperluannya merupakan salah satu hal yang dapat mempererat ukhuwah. Seorang ulama salaf berkata : “Jika seekor lalat hinggap di tubuh sahabatku, aku benar-benar tidak boleh duduk diam (Abu Hayyan at-Tauhidi, al-Mukhtar minash Shadaqah wash-Shadiq, hlm. 143).

Perasaan yang tulus juga akan mendorong seseorang untuk mendoakan sahabatnya ketika berpisah dan menyebut namanya dalam waktu-waktu terkabulnya doa.

Sabda Rasulullah saw : “Doa seorang muslim untuk kebaikan saudaranya yang dilakukan dari kejauhan, nescaya akan dikabulkan.” (HR. Muslim, Ibnu Majah, Ahmad)

4. Mengadakan Pembicaraan Rahasia

“Sesungguhnya pembicaraan rahsia itu adalah dari syaitan agar orang-orang yang beriman itu berduka cita.” (Al-Mujadilah: 10)

Rasulullah saw bersabda yang bermaksud: “Jika kamu bertiga, maka janganlah dua di antara kamu membuat pembicaraan rahsia, kecuali jika orang ketiga mengizinkan, kerana perbuatan itu dapat membuatnya sedih.” (Riwayat Ahmad)

5. Keras kepala, enggan menerima nasihat dan saran

Perkara ini akan membuat seorang sahabat merasakan adanya dinding pemisah antara dirimu dan dirinya.

Ia merasa sulit untuk terbuka dalam setiap pembicaraan dengan anda, bahkan mungkin menganggapmu sombong.

Rasulullah saw sering didatangi oleh para sahabat dan isteri-isteri beliau untuk memberikan idea dan saranan dalam berbagai hal. Beliau menerima dan menuruti saranan mereka dengan senang hati, sekalipun dalam bentuk pernyataan keberatan, kritik, atau sekadar pertanyaan.

6. Sering membantah, berbeza sikap dan bersikap sombong dan kasar

Dua orang yang bersahabat mesti memiliki beberapa kesamaan sifat, kebiasaan, dan watak.

Malik bin Dinar berkata :

“Dua insan tidak akan terikat dalam jalinan ukhuwah, kecuali jika masing-masing memiliki sifat yang sama dengan sahabatnya.”

Kerana itu, betapa banyak orang yang berjumpa dalam perjalanan, kemudian berubah menjadi teman yang sangat dekat. Hal tersebut biasa terjadi kerana penemuan beberapa kesamaan perasaan, kesenangan, pemahaman, dan idea.

Di antara faktor yang dapat menambah keakraban ukhuwah adalah kemampuan menyesuaikan diri dengan beberapa kebiasaan sahabat. Sebaliknya, sering berseberangan dengan sahabat dapat mengurangi keakraban. Tetapi tentunya semua itu dilakukan dengan syarat tidak melanggar aturan syari’at agama.

Bagi menjaga kerukunan persahabatan, ia harus bersikap lembut dan tidak sombong. Anas bin Malik, pelayan Rasulullah saw pernah menceritakan tentang kelemah-lembutan Rasulullah. Kata beliau:

“Aku menjadi pelayan Rasulullah saw selama 10 tahun, dan selama itu beliau tidak pernah mengeluh atau memberi komen tentang pekerjaanku seperti mengatakan: Kenapa kamu lakukan ini? Beliau juga tidak pernah berkomentar ketika aku tidak melakukan sesuatu, seperti mengatakan: Kenapa kamu tidak melakukan ini?

BERSAMBUNG…

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY