Dakwah dan jihad seharusnya tertanam dalam diri kita sebagai para du’at yang begitu mendambakan kebahagiaan abadi di sisi Allah swt. Dalam setiap jiwa kita harus juga terpahat keyakian untuk memilih seni kematian yang paling mulia di sisiNya.

Tiada jalan yang lebih mulia yang dapat menuju puncak kebahagiaan dan mencapai kematian yang terpuji selain mati dalam jihad fi sabilillah.

”Katakanlah, ”Inilah jalan (agama)ku, akau dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” (Yusuf:108)

Jalan ini jugalah yang menjadikan usia para sahabat dan para ulama terus panjang hingga akhir zaman. Kehidupan mereka menjadi begitu bernilai dan istimewa kerana mereka bersegera menyambut seruan Allah dan RasulNya.

Bagaimanakah kesediaan untuk menyahut panggilan dakwah boleh terbit dalam diri mereka?

Tidak lain dan tidak bukan, perkara ini adalah merupakan buah keimanan kepada Allah yang kukuh dan padu serta sangat merindui kebahagiaan abadi dan kematian yang mulia di sisiNya. Kesediaan bersegera melaksanakan dakwah lahir dari hati yang tidak lalai dari hakikat ini. Berapa kuatkah hakikat ini mewarnai diri dan perilaku kita sehingga segala risiko dunia dalam dakwah dan jihad kelihatan begitu kecil pada pandangan kita?  Kekuatan inilah yang menjadikan Hanzalah r.a. segera menyahut seruan jihad meskipun belum sempat mandi junub selepas malam pengantinnya. Bau harum syurga begitu semerbak pada pancaindera para sahabat seperti Anas bin An-Nadhr r.a. lantas mendorongnya bergegas ke hadapan berhadapan dengan golongan musyrikin di perang Uhud lalu dianugerahkan syahid hingga jenazahnya hanya dikenali dari jari tangannya.

Kepantasan menyambut seruan dakwah akan timbul dari kepekaan perasaan terhadap permasalahan umat Islam. Imam Syahid Hasan Al-Banna menegaskan agar setiap da’i memiliki sensitiviti jiwa yang akan bahagia dengan kebaikan dan terluka kerana kebatilan dan keburukan.

Apapun bentuk beban kehidupan dunia yang kita hadapi tidak sepatutnya membuat kita kehilangan kepekaan dan kesediaan memenuhi seruan dakwah dan jihad. Kekentalan jiwa para mujahidin Palestin yang tidak pernah luntur semangat dan usaha jihad mereka harus kita teladani.

Yakinlah bahwa kebersamaan kita dengan Rasulullah s.a.w., para siddiqin, syuhada dan solihin di syurga kelak akan ditentukan sejauh mana kita meneladani mereka dalam kesediaan kita memenuhi seruan dakwah dan jihad.

Tadabburilah gesaan Allah s.w.t. agar kita menghindari keengganan dan kemalasan orang-orang munafik menyahut arahan dakwah.

“Katakanlah: Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, pasangan-pasangan, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khuatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kaum cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasiq.” (At-Taubah:24)
Ayuh kita rungkaikan ikatan dunia dari dalam jiwa kita dan kita bebaskan diri mencapai kebahagiaan yang hakiki di sisi Allah s.w.t.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY